YAYASAN MAJELIS MAULID WA TA`LIM ROUDLOTUSSALAF BANGIL
Rubrik : Fatwa
Memuliakan Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW
2011-06-18 01:33:12 - by : admin


       Ketika memasuki bulan Rabiul
Awal, umat Islam merayakan hari kelahiran Nabi SAW dengan berbagai cara, baik
dengan cara yang sederhana maupun dengan cara yang cukup meriah. Pembacaan
shalawat, barzanji dan pengajian­pengajian yang mengisahkan sejarah Nabi SAW
menghiasi hari-hari bulan itu.


     Sekitar lima abad yang lalu, pertanyaan
seperti itu juga muncul. Dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi (849 H - 911 H)
menjawab bahwa perayaan Maulid Nabi SAW boleh dilakukan. Sebagaimana dituturkan
dalam Al-Hawi lil Fatawi:



 "Ada
sebuah pertanyaan tentang perayaan Maulid Nabi SAW pada bulan Rabiul Awwal,
bagaimana hukumnya menurut syara'. Apakah terpuji ataukah tercela? Dan apakah
orang yang melakukannya diberi pahala ataukah tidak? Beliau menjawab: Menurut
saya bahwa asal perayaan Maulid Nabi SAW, yaitu manusia berkumpul, membaca
Al-Qur'an dan kisah-kisah teladan Nabi SAW sejak kelahirannya sampai perjalanan
kehidupannya. Kemudian menghidangkan makanan yang dinikmnti bersama, setelah
itu mereka pulang. Hanya itu yang dilakukan, tidak lebih. Semua itu termasuk bid'ah
al-hasanah. Orang yang melakukannya diberi pahala karena mengagungkan derajat
Nabi SAW, menampakkan suka dta dan kegembiraan atas kelahiran Nnbi Muhammad SAW
yang mulia". (Al-Hawi lil Fatawi, juz I, hal 251-252)  


Jadi, sebetulnya hakikat
perayaan Maulid Nabi SAW itu merupakan bentuk pengungkapan rasa senang dan
syukur atas terutusnya Nabi Muhammad SAW ke dunia ini. Yang diwujudkan dengan
cara mengumpulkan orang banyak. Lalu diisi dengan pengajian keimanan dan
keislaman, mengkaji sejarah dan akhlaq Nabi SAW untuk diteladani. Pengungkapan
rasa gembira itu memang dianjurkan bagi setiap orang yang mendapatkan anugerah
dari Tuhan. Sebagaimana firman Allah SWT :


 قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَالِكَ فَلْيَفْرَحُوا


"Katakanlah (Muhammad), sebab fadhal dan
rahmat Allah (kepada kalian), maka bergembiralah kalian".
(QS
Yunus, 58)


     Ayat ini, jelas-jelas menyuruh kita umat
Islam untuk bergembira dengan adanya rahmat Allah SWT. Sementara Nabi Muhammad
SAW adalah rahmat atau anugerah Tuhan kepada manusia yang tiadataranya.
Sebagaimana firman Allah SWT:


 وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ


"Dan Kami tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali
sebagai rahmat bagi seluruh alam"
. (QS. al-Anbiya',107)


     Sesunggunya, perayaan maulid itu sudah ada
dan telah lama dilakukan oleh umat Islam. Benihnya sudah ditanam sendiri oleh
Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadits diriwayatkan:


عَنْ أبِي قَتَادَةَ الأنْصَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ اْلإثْنَيْنِ فَقَالَ فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ - صحيح مسلم


Diriwayatkan
dari Abu Qatadah al-Anshari RA bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya tentang
puasa Senin. Maka beliau menjawab, "Pada
hari itulah aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku".
(HR Muslim)


     Betapa Rasulullah SAW begitu memuliakan hari
kelahirannya. Beliau bersyukur kepada Allah SWT pada hari tersebut atas karunia
Tuhan yang telah menyebabkan keberadaannya. Rasa syukur itu beliau ungkapkan
dengan bentuk puasa.


     Paparan ini menyiratkan bahwa merayakan
kelahiran (maulid) Nabi Muhammad SAW termasuk sesuatu yang boleh dilakukan.
Apalagi perayaan maulid itu isinya adalah bacaan shalawat, baik Barzanji atau
Diba', sedekah dengan beraneka makanan, pengajian agama dan sebagainya, yang
merupakan amalan-amalan yang memang dianjurkan oleh Syari' at Islam. Sayyid
Muhammad' Alawi al-Maliki mengatakan:


 "Pada pokoknya, berkumpul untuk
mengadakan Maulid Nabi merupakan sesuatu yang sudah lumrah terjadi. Tapi hal
itu termasuk kebiasaan yang baik yang mengandung banyak kegunaan dan manfaat
yang (akhirnya) kembali kepada umat sendiri dengan beberapa keutamaan (di
dalamnya). Sebab, kebiasaan seperti itu memang dianjurkan oleh syara' secara
parsial (bagian­bagiannya)"


 "Sesungguhnya perkumpulan ini
merupakan sarana yang baik untuk berdakwah. Sekaligus merupakan kesempatan emas
yang seharusnya tidak boleh punah. Bahkan menjadi kewajiban para da'i dan ulama
untuk mengingatkan umat kepada akhlaq, sopan santun, keadaan sehari-hari,
sejarah, tata cara bergaul dan ibadah Nabi Muhammad SAW. Dan hendaknya mereka
menasehati dan memberikan petunjuk untuk selalu melakukan kebaikan dan
keberuntungan. Dan memperingatkan umat akan datangnya bala' (ujian), bid'ah,
kejahatan dan berbagai fitnah"
. (Mafahim Yajib an Tushahhah,
224-226)


     Hal ini diakui oleh Ibn Taimiyyah. Ibn
Taimiyyah berkata, "Orang-orang yang melaksanakan perayaan Maulid Nabi
SAWakan diberi pahala. Begitulah yang dilakukan oleh sebagian orang. Hal mana
juga di temukan di kalangan Nasrani yang memperingati kelahiran Isa AS. Dalam
Islam juga dilakukan oleh kaum muslimin sebagai rasa cinta dan penghormatan
kepada Nabi SAW. Dan Allah SWT akan memberi pahala kepada mereka atas kecintaan
mereka kepada Nabi mereka, bukan dosa atas bid'ah yang mereka lakukan".
(Manhaj as-Salaf li Fahmin Nushush Bainan Nazhariyyah wat Tathbiq, 399)


     Maka sudah sewajarnya kalau umat Islam
merayakan Maulid Nabi SAW sebagai salah satu bentuk penghormatan kepada Nabi
Muhammad SAW. Dan juga karena isi perbuatan tersebut secara satu persatu, yakni
membaca shalawat, mengkaji sejarah Nabi SAW, sedekah, dan lain sebagainya
merupakan amalan yang memang dianjurkan dalam syari'at Islam.

YAYASAN MAJELIS MAULID WA TA`LIM ROUDLOTUSSALAF BANGIL : http://roudlotussalaf.com
Versi Online : http://roudlotussalaf.com/article/112/memuliakan-hari-kelahiran-nabi-muhammad-saw.html