YAYASAN MAJELIS MAULID WA TA`LIM ROUDLOTUSSALAF BANGIL
Rubrik : Akidah
AQIDAH ULAMA INDONESIA : ALLAH ADA TANPA TEMPAT
2011-07-08 10:03:56 - by : admin


            Ummat Islam Indonesia berhaluan
Ahlussunnah Wal Jama'ah, mengikuti aliran Asy'ariyyah dalam bidang akidah dan
Madzhab Syafi'i dalam hukum fiqih. Berikut ini penegasan beberapa ulama
Indonesia tentang akidah Ahlussunnah Wal Jama'ah:




1. Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al
Bantani (W.1314 H/1897).




Beliau
menyatakan dalam Tafsirnya, at-Tafsir al Munir li Ma'alim at-Tanzil, jilid I,
hlm.282 ketika menafsirkan ayat 54 surat al A'raf (7):




ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ




Sebagai
berikut:




"وَالْوَاجِبُ عَلَيْنَا أَنْ نَقْطَعَ بِكَوْنِهِ تَعَالَى مُنَزَّهًا عَنِ الْمَكَانِ وَالْجِهَةِ...".




"Dan
kita wajib meyakini secara pasti bahwa Allah ta'ala maha suci dari tempat dan
arah...."




2. Mufti Betawi Sayyid Utsman bin Abdullah bin ‘Aqil bin Yahya
al ‘Alawi.


Beliau banyak mengarang buku-buku
berbahasa Melayu yang hingga sekarang menjadi buku ajar di kalangan masyarakat
betawi yang menjelaskan akidah Ahlussunnah Wal Jama'ah seperti buku beliau
Sifat Dua Puluh. Dalam karya beliau "az-Zahr al Basim fi Athwar Abi al
Qasim", hal.30, beliau mengatakan: "...Tuhan yang maha suci dari pada
jihah (arah)...".




3. Syekh Muhammad Shaleh ibnu Umar
as-Samaraniy yang dikenal dengan sebutan Kiai Shaleh Darat Semarang (W. 1321
H/sekitar tahun 1901).




Beliau
berkata dalam terjemah kitab al Hikam (dalam bahasa jawa), hlm.105, sebagai
berikut:
"...lan ora arah lan ora enggon lan
ora mongso lan ora werna"

Maknanya:"...dan (Allah Maha Suci) dari arah, tempat, masa dan
warna".




4. K.H.Muhammad Hasyim Asy'ari, Jombang, Jawa Timur pendiri
organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdatul Ulama' (W. 7 Ramadlan 1366
H/25 Juni 1947).




Beliau
menyatakan dalam Muqaddimah Risalahnya yang berjudul: "at-Tanbihat al
Wajibat" sebagai berikut:




"وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ...".




Maknanya:
"Dan aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang wajib disembah melainkan
Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, Dia maha suci dari berbentuk
(berjisim), arah, zaman atau masa dan tempat...".




5. K.H.Muhammad Hasan al Genggongi al
Kraksani, Probolinggo (W. 1955),
Pendiri
Pondok pesantren Zainul Hasan, Probolinggo, Jawa Timur. Beliau menyatakan dalam
risalahnya (Aqidah at-Tauhid), hlm.3 sebagai berikut:




وُجُوْدُ رَبِّيْ اللهِ أَوَّلُ الصِّفَاتْ بِلاَ زَمَانٍ وَمَكَانٍ وَجِهَاتْ فَإِنَّهُ قَدْ كَـانَ قَبْلَ الأَزْمِـنَةْ وَسَائِرِ الْجِهَاتِ ثُمَّ الأَمْكِنَةْ




"Adanya
Tuhanku Allah adalah sifat-Nya yang pertama, (ada) tanpa masa, tempat dan (enam)
arah. Karena Allah ada sebelum semua masa, semua arah dan semua tempat".




6. K.H.Raden Asnawi, Kampung Bandan-Kudus
(W. 26 Desember 1959).




Beliau
menyatakan dalam risalahnya dalam bahasa Jawa "Jawab Soalipun Mu'taqad
seket", hlm.18, sebagai berikut:




"...Jadi
amat jelas sekali, bahwa Allah bukanlah (berupa) sifat benda (yakni sesuatu
yang mengikut pada benda atau ‘aradl), Karenanya Dia tidak membutuhkan tempat
(yakni Dia ada tanpa tempat), sehingga dengan demikian tetap bagi-Nya sifat
Qiyamuhu bi nafsihi" (terjemahan dari bahasa jawa).




7. K.H. Siradjuddin Abbas (W. 5 Agustus 1980/23 Ramadlan
1400 H).




Beliau
mengatakan dalam buku "Kumpulan Soal-Jawab Keagamaan", hal. 25:
"...karena Tuhan itu tidak bertempat di akhirat dan juga tidak di langit,
maha suci Tuhan akan mempunyai tempat duduk, serupa manusia".




8. K.H. Djauhari Zawawi, Kencong, Jember
(W.1415 H/20 Juli 1994),




Pendiri
Pondok Pesantren as-Sunniyah, Kencong, Jember, Jawa Timur. Beliau menyatakan
dalam risalahnya yang berbahasa Jawa, sebagai berikut: "...lan mboten
dipun wengku dining panggenan...", maknanya: "...Dan (Allah) tidak
diliputi oleh tempat..." (Lihat Risalah: Tauhid al-‘Arif fi Ilmi
at-Tauhid, hlm.3).




9. K.H. Choer Affandi (W.1996), pendiri
P.P. Miftahul Huda, Manonjaya, Tasikmalaya, Jawa Barat.




Beliau
menyatakan dalam risalahnya dengan bahasa Sunda yang berjudul "Pengajaran
‘Aqaid al Iman", hal. 6-7 yang maknanya: "(Sifat wajib) yang kelima
bagi Allah adalah Qiyamuhu binafsihi - Allah ada dengan Dzat-Nya, Tidak
membutuhkan tempat - Dan juga tidak membutuhkan kepada yang menciptakan-Nya,
Dalil yang menunjukkan atas sifat Qiyamuhu binafsihi, seandainya Allah
membutuhkan tempat -Niscaya Allah merupakan sifat benda (‘aradl), Padahal yang
demikian itu merupakan hal yang mustahil -Dan seandainya Allah membutuhkan
kepada yang menciptakan-Nya, Niscaya Allah ta'ala (bersifat) baru -Padahal yang
demikian itu adalah sesuatu yang mustahil (bagi Allah)".




Sumber
tulisan Aqidah
Ulama Indonesia; ALLAH ADA TANPA TEMPAT DAN TANPA ARAH (Mewaspadai Ajaran
Wahhabi) oleh Abou fateh

YAYASAN MAJELIS MAULID WA TA`LIM ROUDLOTUSSALAF BANGIL : http://roudlotussalaf.com
Versi Online : http://roudlotussalaf.com/article/119/aqidah-ulama-indonesia-allah-ada-tanpa-tempat.html