YAYASAN MAJELIS MAULID WA TA`LIM ROUDLOTUSSALAF BANGIL
Rubrik : Akidah
As-Salaf ash-Shalih Mensucikan Allah dari Hadd, Anggota badan, Tempat, Arah dan Semua Sifat-sifat Ma
2011-09-16 13:56:26 - by : admin


As-Salaf ash-Shalih Mensucikan Allah dari Had:


 


قال
الإمام أبو جعفر الطحاوي  المولود
سنة ٢٢٧ هـــ والمتوفى
سنة   ٣٢١هـــ : تعالى (يعني الله) عن الحدود والغيات
والأركان والأعضاء والأد وات لاتحويه الجهات الست كسائر المبتدعات


 Al Imam Abu Ja'far ath-Thahawi
-semoga Allah meridhainya- (227-321 H) berkata: "Maha Suci Allah dari
batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sana sekali), batas akhir,
sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan, dan lainnya) maupun
anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan
lainnya). Dan tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah,
kanan, kiri, depan, belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah
penjuru tersebut".


Perkataan al Imam Abu Ja'far
ath-Thahawi di atas merupakan Ijma' (consensus) para sahabat dan Salaf
(orang-orang yang hidup pada tiga abad pertama hijriyah).


Diambil dalil dari perkataan
tersebut bahwasanya bukanlah maksud dari mi'raj bahwa Allah berada di arah atas
lalu Nabi Muhammad shallallu ‘alayhi wasallam naik ke atas untuk bertemu
dengan-Nya, melainkan maksud mi'raj adalah memuliakan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam dan
memperlihatkan kepadanya keajaiban makhluk Allah sebagaimana dijelaskan dalam
al Qur'an surat al Isra' ayat 1. Juga tidak boleh berkeyakinan bahwa Allah
mendekat kepada Nabi Muhammad shallallahu
‘alayhi wasallam
sehingga jarak antara keduanya dua hasta atau lebih dekat,
melainkan yang mendekat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam di saat mi'raj adalah Jibril
‘alayhissalam, sebagaimana diriwayatkan oleh al Imam Bukhari (W. 265 H) dan
lainnya dari as-Sayyidah ‘Aisyah -semoga Allah meridhainya-, maka wajib dijauhi
dan hati-hati terhadap kitab Mi'raj Ibn
Abbas
dan Tanwir al Miqbas min  Tafsir Ibn Abbas karena keduanya adalah
kebohongan belaka yang dinisbatkan kepadanya.


Sedangkan ketika seseorang
menengadahkan kedua tangannya ke arah langit ketika berdo'a, hal ini tidak menandakan
bahwa Allah berada di arah langit. Akan tetapi karena langit adalah kiblat
berdo'a dan merupakan tempat turunnya rahmat dan barakah. Sebagaimana apabila
seseorang ketika melakukan sholat ia menghadap Ka'bah. Hal ini tidak berarti
bahwa Allah berada di dalamnya, akan tetapi karena Ka'bah adalah kiblat shalat.
Penjelasan seperti ini dituturkan oleh para ulama' Ahlussunnah Wal Jama'ah
seperti al Imam al Mutawali (W. 478 H) dalam kitabnya al Ghun-yah, al Imam al Ghazali (W.505 H) dalam kitabnya Ihya ‘Ulum ad-Diin, al Imam an-Nawawi
(W.676 H) dalam kitabnya Syarh Shahih
Muslim
, al Imam Taqiyy ad-Din as-Subki (W.756 H) dalam kitab as-Sayf ash-Shaqil dan masih banyak
lagi.


Perkataan al Imam at-Thahawi
tersebut juga merupakan bantahan terhadap pengikut paham Wahdah al Wujud yang berkeyakinan bahwa Allah menyatu dengan
makhluk-Nya atau pengikut paham Hulul yang
berkeyakinan bahwa Allah menempati makhluk-Nya. Dan ini adalah kekufuran
berdasarkan Ijma' (konsesnsus) kaum muslimim sebagaimana dikatakan oleh al Imam
as-Suyuthi (W.911 H) dalam karyanya al Hawi li al Fatawi dan lainnya, juga para
panutan kita ahli tasawwuf sejati
seperti al Imam al Junaid al Baghdadi (W.297 H), al Imam Ahmad ar-Rifa'i (W.
578 H), Syekh Abdul Qadir al Jilani (W. 561 H) dan semua Imam tasawwuf sejati, mereka selalu
memperingatkan masyarakat akan orang-orang yang berdusta sebagai pengikut
tarekat tasawwuf dan meyakini aqidah Wahdah al Wujud dan Hulul.


al Imam ath-Thahawi juga
mengatakan :


١٧. "ومن وصف الله بمعنى من معاني البشر فقد كفر".


"Barangsiapa menyifati
Allah dengaan salah satu sifat manusia maka ia telah kafir
"


Di antara sifat-sifat manusia
adalah bergerak, diam, turun, naik, duduk, bersemayam, mempunyai jarak,
menempel, berpisah, berubah, berada pada satu tempat dan arah, berbicara dengan
huruf, suara, dan bahasa, dan sebagainya. Maka orang yang mengatakan bahwa
bahasa Arab atau bahasa-bahasa selain bahasa Arab adalah bahasa Allah atau
mengatakan bahwa kalam Allah yang azali (tidak
mempunyai permulaan) dengan huruf, suara atau semacamnya, dia telah
menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Dan barangsiapa yang menyifati Allah
dengan salah satu dari sifat-sifat manusia seperti yang tersebt di atas atau
semacamnya ia telah terjerumus dalam kekufuran. Begitu juga yang meyakini Hulul
dan Wahdah al Wujud telah menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya.


Maka, berhati-hatilah terhadap
pemikiran-pemikiran yang dapat membelokkan dirimu dan keluargamu dari aqidah
yang selamat, aqidah Ahlussunnah Wal
Jama'ah
. Semoga kita semua dijadikan hamba yang senantiasa memegang erat
aqidah ini. Dan Semoga kita tidak meninggal kecuali tetap berpedoman pada Ahlussunnah Wal Jama'ah. Amiin


 

YAYASAN MAJELIS MAULID WA TA`LIM ROUDLOTUSSALAF BANGIL : http://roudlotussalaf.com
Versi Online : http://roudlotussalaf.com/article/124/as-salaf-ash-shalih-mensucikan-allah-dari-hadd-anggota-badan-tempat-arah-dan-semua-sifat-sifat-ma.html