YAYASAN MAJELIS MAULID WA TA`LIM ROUDLOTUSSALAF BANGIL
Rubrik : Manakib
MANAQIB K.H. ABDUL HAMID - PASURUAN
2012-01-21 17:09:59 - by : admin


Terkenal sebagai Waliyullah; Falsafahnya Pohon Kelapa

Orang mengenal Kiai Hamid karena beliau dikenal sebagai seorang wali. Dan orang
mengatakan wali - biasanya - hanya karena keanehan seseorang. Tidak banyak yang
tahu tentang sejatinya beliau. Nah ! Dalam rangka memperingati haulnya pada
bulan Mei ini kami turunkan sekelumit tentang beliau.

Seperti halnya orang mengenal Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani sebagai sultanul
auliya', tidak banyak yang tahu bahwa sebetulnya Syekh Abdul Qodir adalah
menguasai 12 disiplin ilmu. Beliau mengajar ilmu qiraah, tafsir, hadits, nahwu,
sharaf, ushul fiqh, fiqh dll. Beliau sendiri berfatwa menurut madzhab Syafi'I
dan Hanbali. Juga Sahabat Umar bin Khattab, orang hanya mengenal sebagai Khalifah
kedua dan Panglima perang. Padahal beliau juga wali besar. Beliau pernah
mengomando pasukan muslimin yang berada di luar negeri cukup dari mimbar Masjid
di Madinah dan pernah menyurati dan mengancam sungai Nil di Mesir yang banyak
tingkah minta tumbal manusia, hingga nurut sampai sekarang.

Kiai Abdul Hamid yang punya nama kecil Abdul Mu'thi lahir di Lasem Rambang Jawa
Tengah tahun 1333 H bertepatan dengan tahun 1914 M. dari pasangan Kiai Abdullah
bin Umar dengan Raihanah binti Kiai Shiddiq. Beliau yang biasa dipanggil Mbah
Hamid ini adalah putra keempat dari 12 saudara.

Seperti umumnya anak cerdas, Hamid pada waktu kecil nakalnya luar biasa,
sehingga dia yang waktu kecil dipanggil Dul ini panggilannya dipelesetkan
menjadi Bedudul. Kenakalannya ini dibawa sampai menginjak usia remaja, dimana
dia sering terlibat perkelahian dengan orang China yang pada waktu itu dipihak
para penjajah. Pernah suatu saat dia ajengkel melihat lagak orang China yang
sombong, kemudian orang China tersebut ditempeleng sampai klenger. Karena dia
dicari-cari orang China kemudian oleh ayahnya dipondokkan ke Termas Pacitan.
Sewaktu dia belajar di Termas sering bermain ke rumah kakeknya, Kiai Shiddiq di
Jember dan kadang-kadang bertandang ke rumah pamannya Kiai Ahmad Qusyairi di Pasuruan.
Sehingga, sebelum dia pindah ke Pasuruan, dia sudah tidak asing lagi bagi
masyarakat disana.

Setelah di pesantren Termas dipercaya sebagai lurah, Kiai Hamid sudah mulai
menampakkan perubahan sikapnya, amaliyahnya mulai instensif dan konon dia suka
berkhalwat disebuah gunung dekat pesantren untuk membaca wirid. Semakin lama,
dia semakin jarang keluar kamar. Sehari-hari di kamar saja, enath apa yang
diamalkannya. Sampai kawan-kawannya menggoda . Pintu kamarnya dikunci dari
luar. Tapi, anehnya dia bisa keluar masuk.

Tawadlu' dan Dermawan.

Kiai Hamid yang kemudian diambil menantu Kiai Qusyairi adalah sosok yang halus
pembawaannya. Meski sebagai orang alim dan menjadi menantu kiai, beliau tetap
tawadlu' (rendah hati). Suaranya pelan dan sangat pelan. Ketika apa saja
apelan, entah mengajar, membaca kitab, berdzikir, shalat amaupun bercakap-cakap
dengan tamu. Kelembutan suaranya sama persis dengan kelembutan hatinya. Beliau
mudah sekali menangis. Apabila ada anaknya yang membandel dan akan memarahinya,
beliau menangis dulu, akhirnya tidak jadi marah. "Angel dukane, gampang
nyepurane", kata Durrah, menantunya.

Kebersihan hatinya ditebar kepada siapa saja, semua orang merasa dicintai
beliau. Bahkan kepada pencuri pun beliau memperlihatkan sayangnya. Beliau melarang
santri memukuli pencuri yang tertangkap basah di rumahnya. Sebaliknya pencuri
itu dibiarkan pulang dengan aman, bahkan beliau pesan kepada pencuri agar
mampir lagi kalau ada waktu.

Sikap tawadlu' sering beliau sampaikan dengan mengutip ajaran Imam Ibnu
Atha'illah dalam kitab Al-Hikam; "Pendamlah wujudmu di dalam bumi khumul
(ketidakterkenalan)". Artinya janganlah menonjolakan diri. Dan ini selalu
dibuktikan dalam kehidupannya sehari-hari. Bila ada undangan suatu acara,
beliau memilih duduk bersama orang-orang biasa, di belakang. Kalau ke masjid,
dimana ada tempat kosong disitu beliau duduk, tidak mau duduk di barisan depan
karena tidak mau melangkahi tubuh orang.

Kiai Hamid yang wafat pada tahun 1982 juga dikenal sebagai orang yang dermawan.
Biasanya, kebanyakan orang kalau memberi pengemis dengan uang recehan Rp.
100,-. Tidak demikian dengan Kiai Hamid, beliau kalau memberi tidak melihat
berapa uang yang dipegangnya, langsung diserahkan. Kalau tangannya kebetulan
memegang uang lima ribuan, ya uang itu yang diserahkan kepada pengemis. Tak
hanya bentuk uang, tapi juga barang. Dua kali setahun beliau selalu membagi
sarung kepada masing-masing anggota keluarga.

Orang Alim

Biasanya orang yang terkenal dengan kewaliannya hanya dipandang dari kenyentrikannya
saja. Tapi tidak demikian dengan Kiai Hamid, beliau dipandang orang bukan hanya
dari kenylenehannya, tapi dari segi keilmuannya, beliau juga sangat dikagumi
banyak kiai. Karena, memang sejak dari pesantren beliau sudah terkenal
menguasai berbagai disiplin ilmu, mulai dari ilmu kanoragan, ketabiban, fiqih,
sampai ilmu Arudl beliau sangat menguasai. Terbukti beliau juga menyusun
syi'iran.

Karena kedalaman ilmunya itu, masyarakat meminta beliau menyediakan waktu untuk
mengaji. Akhirnya beliau menyediakan waktu Ahad pagi selepas subuh. Adapun
kitab yang dibaca kitab-kitab tasawwuf, mulai dari yang kecil seperti kitab
Bidayatul Hidayah, Salalimul Fudlala' dan kemudian dilanjutkan kitab Ihya'.

Didalam mendidik atau mengajar, Kiai Hamid mempunyai falsafah yang beranjak
dari keyakinan tentang sunnatullah, hukum alam. Ketika ada seorang guru mengadu
bahwa banyak murid-muridnya yang nilainya merah. Beliau lalu memberi nasehat
dengan falsafah pohon kelapa. "Bunga Kelapa (manggar) kalau jadi kelapa semua
yang tak kuat pohonnya atau buahnya jadi kecil-kecil" katanya menasehati sang
guru. "Sudah menjadi sunnatullah," katanya, bahwa pohon kelapa berbunga
(manggar), kena angin rontok, tetapi tetap ada yang berbuah jadi cengkir.
Kemudian rontok lagi. Yang tidak rontok jadi degan. Kemudian jadi kelapa.
Kadang-kadang sudah jadi kelapa masih dimakan tupai.

Ijazah-ijazah

Seperti kebanyakan para kiai, Kiai Hamid banyak memberi ijazah (wirid) kepada
siapa saja. Biasanya ijazah diberikan secaara langsung tapi juga pernah memberi
ijazah melalui orang lain. Diantara ijazah beliau adalah:

1. Membaca Surat Al-Fatihah 100 kali tiap hari. Menurutnya, orang yang membaca
ini bakal mendapatkan keajaiban-keajaiban yang terduga. Bacaan ini bisa dicicil
setelah sholat Shubuh 30 kali, selepas shalat Dhuhur 25 kali, setelah Ashar 20
kali, setelah Maghrib 15 kali dan setelah Isya' 10 kali.
2. Membaca Hasbunallah wa ni'mal wakil sebanyak 450 kali sehari semalam.
3. Membaca sholawat 1000 kali. Tetapi yang sering diamalkan Kiai Hamid adalah
shalawat Nariyah dan Munjiyat.
4. Membaca kitab Dala'ilul Khairat. Kitab ini berisi kumpulan shalawat.

YAYASAN MAJELIS MAULID WA TA`LIM ROUDLOTUSSALAF BANGIL : http://roudlotussalaf.com
Versi Online : http://roudlotussalaf.com/article/136/manaqib-kh-abdul-hamid-pasuruan.html