YAYASAN MAJELIS MAULID WA TA`LIM ROUDLOTUSSALAF BANGIL
Rubrik : Manakib
Manaqib Sayyid Muhammad alMaliki I
2013-07-25 10:25:54 - by : admin



Inilah setetes
dari samudera keindahan biografi seorang ulama besar yang menjadi rujukan para
ulama Ahlus sunnah yaitu Quthbuz zaman, wa Allaamatul ‘ashr, Naashirus sunnah,
al-imam, al-Muhaddits, as-Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki al-Hasani.


الله
ينفعنا ببركته واسراره وعلومه في الدين والدنيا والاخرة


Nama beliau
adalah Muhammad bin Alwi bin Sayyid ‘Abbas bin Sayyid ‘Abdul ‘Aziz al-Maliki
al-Hasani yang nasabnya sampai kepada sayyidina Hasan dan kepada Rasulullah
Shallahu ‘alaihi wa sallam. Lahir di kota suci Makkah pada tahun 1365 H.


Pendidikan
beliau :


Beliau sejak
usia dini telah dididik langsung oleh ayahanda beliau yaitu al-imam as-sayyid
Alwi al-Maliki al-Hasani. Adapun ayah beliau sayyid Alwi adalah seorang ulama
besar yang ternama di Makkah dan merangkap sebagai qadhi dan pengajar di Tanah
Haram Makkah. Selama menjalankan tugas da’wah, Sayyid Alwi bin Abbas Almaiki
selalu membawa kedua putranya Muhammad dan Abbas. Mereka berdua selalu
mendampinginya kemana saja ia pergi dan berceramah baik di Makkah atau di luar
kota Makkah.


Di samping beliau
belajar di Madarasah al-Fallah, tempat ayahanda beliau mengajar di sana, beliau
juga belajar ilmu tafsir, hadits, ushul dan ilmu bahasa kepada para ulama
Makkah baik dari ulama setempat maupun ulama yang datang ke Makkah pada
musim-musim haji dari berbagai daerah.  kemudian
beliau melanjutkan studinya ke Kairo di Universitas al-Azhar Assyarif hingga
lulus dan mencapai tingkat Master dan Doktor dari fakultas ushuluddin. Beliau
juga berangkat untuk menuntut ilmu ke beberapa daerah seperti Pakistan, India,
Syam, Mesir dan Maroko.  


Setelah itu
beliau kembali ke Makkah untuk melanjutkan perjalanan yang telah di tempuh sang
ayah. Disamping mengajar di Masjidi Haram di halaqah, beliau diangkat sebagai
dosen di Universitas King Abdul Aziz- Jeddah dan Univesitas Ummul Qura Makkah
bagian ilmu Hadith dan Usuluddin. Cukup lama beliau menjalankan tugasnya
sebagai dosen di dua Universiatas tsb, sampai beliau memutuskan mengundurkan
diri dan memilih mengajar di Masjidil Haram sambil menggarap untuk membuka
majlis ta’lim dan pondok di rumah beliau. Adapun pelajaran yang di berikan baik
di masjid haram atau di rumah beliau tidak berpoin kepada ilmu tertentu seperti
di Universitas. Akan tetapi semua pelajaran yang diberikannya bisa di terima
semua masyarakat baik masyarakat awam atau terpelajar, semua bisa menerima dan
semua bisa mencicipi apa yang diberikan Sayyid Maliki.


Semakin hari
semakin banyak orang-orang yang ingin belajar di majlis beliau sehingga beliau
membangun rumah yang lebih besar lagi yang mampu menampung lebih dari 500 murid
per hari yang biasa dilakukan selepas sholat Maghrib sampai Isya di rumahnya di
Ar-Rusyaifah.


Begitu pula
setiap bulan Ramadan dan hari raya beliau selalu menerima semua tamu dan
muridnya dengan tangan terbuka tanpa memilih golongan atau derajat. Semua di
sisinya sama tamu-tamu dan murid murid, semua mendapat penghargaan yang sama
dan semua mencicipi ilmu bersama-sama. Dari rumah beliau telah keluar
ulama-ulama yang membawa panji Rasulallah ke suluruh pelosok permukaan bumi. Di
samping pengajian dan taklim yang rutin di lakukan setiap hari pula beliau
telah berusaha mendirikan pondok yang jumlah santrinya tidak sedikit, semua
berdatangan dari seluruh penjuru dunia, seperti  India, Pakistan, Afrika, Eropa, Amerika dan juga Indonesia. Mereka belajar,
makan, dan minum tanpa di pungut biaya sepeser pun bahkan beliau memberikan
beasiswa kepada para santri sebagai uang saku. Setelah beberapa tahun belajar,
para santri dipulangkan ke negara-negara mereka untuk menyiarkan agama. Di
negara mana saja kita dapatkan murid beliau, apa lagi di Asia yang merupakan
sebagai orbit dahwah sayid Muhammad Almaliki, ribuan murid murid beliau yang
bukan hanya menjadi kyai dan ulama akan tetapi tidak sedikit dari murid-murid
beliau yang masuk ke dalam pemerintahan.


Beliau ingin
mengangkat derajat dan martabat Muslimin menjadi manusia yang berperilaku baik
dalam muamalatnya kepada Allah dan kepada sesama, terhormat dalam perbuatan,
tindakan serta pikiran dan perasaannya. Menanamkan kecerdasan, keberanian dan
kejujuran serta keadilan dan cinta kasih terhadap sesama. Itulah ajaran utama
Sayyid Muhammad bin Alwi Almaliki. Beliau selalu menerima dan menghargai
pendapat orang dan menghormati orang yang tidak sealiran dengannya atau tidak
searah dengannya.


 

YAYASAN MAJELIS MAULID WA TA`LIM ROUDLOTUSSALAF BANGIL : http://roudlotussalaf.com
Versi Online : http://roudlotussalaf.com/article/139/manaqib-sayyid-muhammad-almaliki-i.html