User Name Password Register Forgot Password.!?

menu
Get the Flash Player to see this rotator.

Home | Kalam Salaf | Sebab-Sebab Allah Swt. Mencintai Hamba-Nya

Sabtu, 18 Juni 2011 01:12:26 - kirim | cetak

Pada hari Selasa sore, 12 Syawal 545 H., Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani rah.a. berkata:

Wahai anak muda, lakukanlah secukupnya dalam semua urusanmu. Engkau adalah hamba yang lari dari tuannya. Kembalilah kepada-Nya. Bersimpuhlah kepada-Nya. Patuhilah perintah-Nya. Hindarilah larangan-Nya. Terimalah ketetapan-Nya dengan sabar dan setia. Jika yang demikian itu telah sempurna, sempurnalah penghambaanmu kepada Tuhanmu dan kecukupan dari-Nya akan datang kepadamu. "Bukankah Allah telah mencukupi hamba-Nya." (Q.s. Az-Zumar: 36). Jika benar penghambaanmu kepada-Nya, Dia akan mencintaimu, bahkan kuatlah cinta-Nya di hatimu, engkau akan merasa damai bersama-Nya dan dekat dengan-Nya, engkau tidak lagi merasa susah, dan engkau tidak perlu mencari teman selain Dia. Engkau ridha kepada-Nya dalam semua keadaan, meski bumi menyempit dan pintu-pintu tertutup bagimu, engkau tidak akan marah, engkau tidak akan datang ke pintu lain selain pintu-Nya, engkau tidak akan memakan makanan selain makanan dari-Nya. Engkau akan bertemu dengan Musa a.s. di mana Allah Swt. berfirman, "Dan kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui (Nya)." (Q.S. Al-Qashash:12).

Allah, Tuhan kita Azza Wa Jalla menyaksikan segala sesuatu, hadir pada segala sesuatu, memeriksa segala sesuatu, dan dekat dengan segala sesuatu. Engkau tidak mungkin bebas dari-Nya. Tidak ada keingkaran setelah ma'rifat. Celaka engkau, engkau mengenal Allah lalu mengingkari-Nya. Janganlah engkau berpaling dari-Nya sehingga engkau tidak mendapatkan kebaikan sama sekali. Bersabarlah bersama-Nya. Jangan sabar berpisah dari-Nya. Tidakkah engkau tahu bahwa orang yang bersabar itu akan berjaya. Demikianlah akal ini, mengapa tergesa-gesa? Allah Swt. berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah engkau dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertawakallah kepada Allah supaya engkau beruntung." (Al-Qur'an)

 Banyak ayat Al-Qur'an yang membicarakan tentang kesabaran. Di dalam kesabaran terkandung banyak kebaikan dan kenikmatan, bahkan pembalasan yang baik, karunia dan kedamaian di dunia dan akhirat. Engkau harus bersabar, karena engkau sudah melihat kebaikan itu di dunia dan kelak di akhirat. Kiranya engkau perlu berziarah kubur dan mendatangi orang-orang shalih serta melakukan kebaikan. Maka sungguh, urusanmu akan menjadi beres. Janganlah engkau seperti orang-orang yang apabila sehat tidak mau melaksanakan, jika mendengar tidak mau mengamalkan. Hilangnya agamamu karena empat hal: Pertama, engkau tidak mengamalkan apa yang engkau ketahui. Kedua, engkau justru melakukan apa yang tidak engkau ketahui. Ketiga, engkau tidak mau mempelajari apa yang tidak engkau ketahui sehingga engkau tetap bodoh. Dan keempat, engkau mencegah orang dari mempelajari apa yang tidak mereka ketahui.

Wahai anak muda, tampaknya engkau hanya mendatangi majelis-majelis dzikir pada waktu longgar saja, tidak istiqamah. Engkau menolak nasihat para penceramah, bahkan engkau menganggap mereka salah, lantas engkau mentertawakan dan mempermainkannya. Jika demikian, sesungguhnya engkau berada dalam bahaya. Padahal sesungguhnya engkau berada dalam kekuasaan Allah Swt. Bertaubatlah kepada Allah. Janganlah engkau menyerupai musuh-musuh Allah. Ambillah manfaat dari apa yang engkau dengar. Wahai anak muda, sungguh engkau telah terikat dengan kebiasaan, mencari bagian dengan mengandalkan sebab dan melupakan empat Musabab dan tawakal kepada-Nya. Engkau harus memulai beramal dengan ikhlas. Allah Swt. berfirman, "Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali mereka menyembah kepada-Ku." (Q.S. Adz Dzariayat:56). Allah Swt. tidak menciptakan mereka untuk merusak, main-main, atau hanya sekadar makan, minum, tidur, dan nikah. Sadarlah wahai orang yang lalai. Langkahkan hatimu kepada-Nya satu langkah, maka Dia akan melangkah kepadamu beberapa langkah untuk menjumpai para kekasih yang rindu. "Allah Swt. memberi rezeki kepada siapa yamg dikehendaki tanpa batas." (Q.s. Al-Baqarah:212).

Jika Allah menghendaki seseorang untuk sesuatu, maka Dia akan menyediakan untuk itu. Ini sesuatu yang berkaitan dengan makna, bukan rupa. Jika apa yang telah aku sebutkan itu sempurna pada diri seseorang, maka benarlah zuhudnya di dunia dan akhirat. Segala sesuatu akan datang kepadanya. Kesehatan, kerajaan, kekuasaan, dan kepemimpinan akan datang kepadanya. Setiap bijinya menjadi gunung, setiap tetesnya menjadi lautan, bintangnya menjadi bulan, dan bulannya menjadi matahari, yang sedikit menjadi banyak, ketiadaannya menjadi wujud, kefanaannya menjadi kekal, geraknya menjadi tetap, menjulanglah pohonnya ke ‘arsy sedang akarnya menancap ke bumi. Daun dan rantingnya mengembang di dunia dan akhirat. Apakah ranting-ranting itu? Yaitu hukum dan ilmu. Dunia berjalan di sisinya seperti lingkaran cincin. Tidak ada dunia yang menguasainya. Tidak ada akhirat yang mengikatnya. Tidak ada kerajaan yang memilikinya. Tidak ada penghalang yang menghalanginya. Tidak ada seorang pun yang menyakitinya. Jika seseorang itu telah sempurna demikian, maka dia patut berada di tengah manusia, kemudian diambil dari hadapan mereka, dan diselamatkan dari lautan dunia. Jika Allah Swt. menghendaki kebaikan untuk seseorang, maka Allah Swt. akan menjadikannya sebagai orang yang menunjuki orang lain, dokter, pendidik, pembimbing, juru bahasa, lampu dan matahari bagi manusia. Jika tidak, maka Allah Swt. justru akan menghalangi dia dari-Nya. Ada juga sebagian orang semacam ini, di mana Allah Swt. mengembalikan kepada makhluk dengan tetap dijaga dan diselamatkan. Allah Swt. memberinya taufiq untuk membangun dan menunjuki manusia.

Orang yang zuhud dunia akan diuji dengan akhirat. Orang yang zuhud dunia dan akhirat akan diuji dengan makhluk dunia dan akhirat. Sungguh engkau telah lalai, seolah-olah engkau tidak akan mati. Seolah-olah pada Hari Kiamat nanti engkau tidak akan dihimpun di Mahsyar, tidak dihisab di hadapan Allah Swt., dan tidak meniti shirat. Inilah sifat-sifatmu. Padahal engkau mengaku Islam. Al-Qur'an dan ilmu akan menuntutmu jika engkau tidak mengamalkannya. Sehingga engkau dosa karenanya. Pada Hari Kiamat, ketika engkau hendak menjumpai Rasullullah saw., beliau tidak mau menerimamu. Pada hari itu semua makhluk takut kepada keagungan dan kebesaran Allah Swt., habislah seluruh kerajaan dunia, yang tinggal hanyalah kerajaan-Nya. Pada Hari Kiamat, segala sesuatu kembali kepada-Nya. Tampaklah kerajaan, kemuliaan, dan kekayaan para kekasih Allah Swt. Pada hari itu, Allah Swt. memuliakan mereka. Bahkan pada hari ini mereka menjadi tiang langit, paku bumi, dan wakil Al-Haq Azza wa Jalla, teapi dari segi makna, bukan dari segi bentuk. Jika hari ini masih bersifat makna, besok merupkan bentuk aslinya. Keberanian para pembangkang adalah dalam menghadapi dan memerangi orang-orang kafir. Sedangkan keberanian orang-orang shalih adalah dalam menghadapi nafsu, keinginan, watak, syaitan, serta kawan-kawan buruk. Adapun keberanian orang-orang khawas adalah zuhud terhadap dunia dan akhirat.

Wahai anak muda, sadarlah sebelum engkau disadarkan tanpa perintahmu. Bergaulah dengan ahli agama, mereka adalah manusia pilihan. Orang yang berakal adalah yang menaati Allah Swt. dan orang yang paling bodoh adalah yang mendurhakai-Nya. Nabi saw. bersabda, "Kedua tanganmu berdebu," yakni miskin. Namun kedua tanganmu menjadi kaya bila bergaul dan mencintai para ahli agama. Kemunafikan akan hilang dari hatimu. Orang munafik adalah orang yang pamer. Sebenarnya ia tidak punya amal. Amalmu tidak akan di terima kecuali yang ditujukan untuk Allah Swt. Yang diterima bukan bentuk amal, tetapi niatnya. Jika engkau menentang nafsu, keinginan, syaitan, dan duniamu dalam beramal, maka Dia akan menerimanya. Beramallah dengan ikhlas. Janganlah engkau melihat jumlah amalmu. Yang diterima adalah amal karena Allah Swt., bukan karena makhluk. Celaka engkau, engkau beramal karena makhluk, tetapi ingin diterima Allah Swt., inilah cacat yang ada pada dirimu. Tinggalkanlah kejahatan, kesombongan, dan kepongahan. Sedikitkanlah kesenanganmu dan perbanyaklah kesungguhanmu. Sesungguhnya engkau sedang berada di kampung kesusahan, dan sesungguhnya engkau sedang berada dalam penjara. Nabi saw. selalu bertafakur, sedikit bergembira, dan banyak bersedih. Beliau sedikit tertawa, kecuali tersenyum untuk menyenangkan hati orang lain. Sesungguhnya di hati beliau menaruh kerisauan. Kalau saja bukan karena sahabat dan urusan agama, beliau tidak akan keluar dari rumahnya dan tidak akan duduk bersama siapa pun.

Wahai anak muda, jika khalwatmu bersama Allah Swt. telah benar, hatimu tentu akan tercengang dan menjadi bersih. Pandanganmu dapat menarik pelajaran, hatimu bertafakur, ruh dan maknamu sampai pada Al-Haq Azza wa Jalla. Berfikir perihal dunia adalah siksaan dan hijab. Tetapi memikirkan akhirat adalah ilmu dan menghidupkan hati. Orang yang bertafakur diberi ilmu tentang keadan dunia dan akhirat. Celaka engkau, engkau telah menyia-nyiakan hatimu untuk urusan dunia, padahal Allah Swt. telah menanggungnya, telah menentukan jumlah dan waktunya. Setiap hari Dia memberikan rezeki kepadamu, baik engkau mencarinya atau tidak. Engkau hanya ingin memalukan diri di sisi Allah dan manusia. Sebab kurangnya iman, tidurmu pun memikirkan rezeki. Tetapi dengan bertambahnya iman, rezeki akan mencarimu. Bahkan dengan kesempurnaan iman, ketika tidur engkau tidak memikirkan rezeki. Wahai anak muda, janganlah engkau mencampur kesungguhan dengan gurauan. Tidak mungkin hatimu bersama makhluk ketika engkau bersama Khaliq. Engkau musyrik dengan sebab, bagaimana mungkin engkau bersama dengan yang zhahir dan batin, sesuatu yang masuk akal dan sesuatu yang tidak masuk akal, sesuatu yang si sisi makhluk, dan sesuatu yang di sisi Khaliq. Alangkah bodohnya orang yang melupakan Al-Musabab dan sibuk dengan sebab. Tinggal bersama yang kedua berarti melupakan yang pertama. Melupakan yang kekal dan puas dengan yang fana.

Wahai anak muda, engkau menemani orang-orang yang bodoh sehingga kebodohannya merembet kapadamu. Jika berteman dengan orang-orang bodoh, engkau akan tertipu. Temanilah orang-orang yang beriman, yang yakin, yang alim, dan yang mengamalkan ilmunya. Alangkah baiknya keadaan orang-orang yang beriman dalam seluruh perilaku mereka. Alangkah kuatnya mujahadah mereka dan pengekangan mereka terhadap nafsu dan keinginannya. Karena itulah Nabi saw. besabda: "Kegembiraan orang mukmin itu di dalam wajahnya dan kesedihannya di dalam hatinya."

Hal itu terjadi karena kekuatannya dalam menampakkan kegembiraan di wajah dan menyembunyikan kesedihan antara dia dengan Allah Swt., banyak tafakur, banyak menangis, dan sedikit tertawa, sehingga Nabi saw. juga bersabda: "Tidak ada istirahat bagi orang mukmin kecuali menjumpai Tuhannya Azza wa Jalla."

Orang mukmin menyembunyikan kesedihannya dan kegembiraannya. Lahirnya bergerak bekerja, batinnya tenang kepada Tuhannya Azza wa Jalla. Lahirnya untuk keluarganya, tetapi batinnya untuk Tuhannya. Ia tidak menampakkan nuraninya kepada keluarganya, bahkan kepada anak, istri, dan tetangganya, dan tidak kepada seorang makhluk pun. Ia mendengarkan sabda Nabi saw.: "Mohonlah pertolongan atas urusanmu dengan menyembunyikannya."

Ia senantiasa menyembunyikan apa yang ada pada dirinya. Jika terlanjur keluar kata-kata dari lidahnya, dia akan segera memperbaiki ucapannya, menutupi apa yang telah tampak darinya, serta meminta maaf atas pernyataannya. Wahai anak muda, jadikanlah aku sebagai cerminmu. Jadikanlah aku sebagai cermin hatimu, sedang nuranimu adalah amalanmu. Mendekatlah kepadaku. Sesungguhnya engkau akan melihat pada dirimu sesuatu yang tidak akan engkau lihat bila engkau jauh dariku. Jika engkau ingin peningkatan dalam agamamu, engkau mesti bersamaku. Aku tidak akan menyalahimu dalam agama Allh Swt. Aku mempunyai ketegasan kembali kepada agama Allah Swt. Rupanya engkau meragukan tangan yang tegas, tidak munafik. Tinggalkanlah duniamu di rumahmu dan mendekatlah kepadaku. Sungguh, aku berdiri di pintu akhirat. Berdirilah di depanku dan dengarkan ucapanku. Amalkanlah, sebab sebentar lagi ia akan mati. Itulah tempat untuk takut kepada Allah Swt. Jika engkau tidak takut kepada-Nya, engkau tidak akan aman dari-Nya di dunia maupun di akhirat. Takut kepada Allah Swt. adalah ilmu yang sebenarnya. Allah Swt. berfirman: "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama." (Q.s. Al-Fathir: 28).

Tidak ada yang takut kepada Allah Swt. kecuali para ulama yang mengamalkan ilmunya, dan mereka tidak meminta kepada Allah Swt. untuk membalas amal mereka, tetapi mereka semata-mata mengharapkan keridhaan dan kedekatan dengan-Nya. Mereka mengharapkan cinta-Nya serta keselamatan, tidak terjauh atau terhijab dari-Nya. Mereka ingin agar tidak tertutup pintu baginya di dunia maupun akhirat. Tidak ada yang mereka cintai, baik di dunia maupun di akhirat, selain Dia. Dunia untuk suatu kaum, dan akhirat untuk kaum yang lain, sedangkan Al-Haq Azza wa Jalla untuk kaum tersendiri., yaitu orang-orang yang beriman, yakin, cinta, takut, tunduk, dan mengenal Dia. Mereka adalah orang yang hatinya selalu sedih karena Dia. Mereka takut kepada Allah Swt. Yang ghaib. Dia ghaib dari pandangan lahir mereka, tetapi hadir dalam pandangan hatinya. Bagaimana mungkin mereka tidak takut kepada-Nya, sedangkan Dia setiap hari sibuk mengubah, mengganti, menolong ini, menghancurkan itu, menghidupkan dan mematikan Fulan, menerima ini, menolak itu, mendekatkan ini, dan menjauhkan itu. "Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat, sedangkan mereka akan ditanya." (Q.s. Al-Anbiya':23).

Ya Allah, dekatkan kami kepada Engkau, jangan jauhkan kami dari Engkau. Berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari siksa neraka.

 

Berita "Kalam Salaf" Lainnya