User Name Password Register Forgot Password.!?

menu
Get the Flash Player to see this rotator.

Home | Kisah | Kisah hidup mulia Sayyidah Khadijah Bag I

Selasa, 23 Juli 2013 20:41:19 - kirim | cetak
Kisah hidup mulia Sayyidah Khadijah Bag I

Inilah sekelumit dari samudera keindahan manaqib ibu kaum Muslimin, istri tercinta Rasulullah Saw, yaitu Sayyidatuna Khadijatul Kubra R. Anha.

Nama beliau adalah Khadijah bin Khuwailid binti Asad bin Abdul Uzza bin Qushai bin Kilab al-Qurasyiyah al-Asadiyah, nasab kakeknya bertemu dengan nasab kakek Rasulullah yang kelima. Ibu beliau bernama Fatimah binti Zaidah binti Jundub. Dilahirkan di kota Makkah tahun 68 sebelum Hijriyah. Beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga yang mulia, sehingga akhirnya setelah dewasa ia menjadi wanita yang cerdas, teguh, dan berperangai luhur.

Sayyidah Khadijah pada masa Jahiliyyah.

Pada masa Jahiliyyah dan sebelum bertemu Rasulullah Saw, sayyidah Khadijah adalah seorang wanita yang sangat menjaga kehormatannya dan seorang wanita saudagar yang kaya raya. Beliau pun mempekerjakan orang-orang untuk memperdagangkan barang dagangannya ke negeri Syam. Di samping itu beliau juga suka menolong mereka yang hidup dalam kekurangan dan sangat penyantun kepada orang lemah.

Sebagai wanita cantik, kaya dan berperangai luhur, banyak pria kaya yang ingin melamar Siti Khadijah. Beberapa pelamar itu adalah orang-orang yang berasal dari keluarga kaya dan bersedia membayar berapapun mas kawin yang diinginkan Siti Khadijah. Tetapi wanita mulia tersebut menolak lamaran yang datang secara halus. Harta bukanlah satu-satunya penilaian dalam memilih pasangan hidup.

Suatu hari beliau mendengar tentang seorang pemuda yang bernama Muhammad bin Abdillah, disebut-sebut sebagai seorang pemuda yang berperangai luhur, santun dan jujur. Karena pada saat itu jarang sekali ada seorang pemuda yang berakhlak mulia dan sangat jujur. Maka sayyidah Khadijah berinisiatif bekerja sama denga nabi Muhammad untuk memperdagangkan barang dagangannya ke negeri Syam.  Nabi Muhammad pun menerima tawaran tersebut, maka berangkatlah beliau ke Syam dengan ditemani khodam sayyidah Khadijah yang bernama Maisaroh (seorang laki-laki). Kemudian sesampainya di Syam beliau singgah di bawah naungan pohon yang terletak dekat dengan kuil seorang Rahib. Kemudian rahib tersebut melihat kepada Maisaroh dan bertanya : " Siapa orang yang duduk di pohon itu ?, Maisaroh menjawab : " Dia adalah seorang pemuda dari bangsa Quraisy di Makkah ". Si Rahib mengatakan : " Tidaklah duduk di bawah pohon ini kecuali seorang nabi ".

Kemudian Nabi melanjutkan perjalanannya dan mengelar dagangannya, akan tetapi metode dagang beliau saw berbeda dengan yang lain. Yakni beliau saw menjelaskan harga asli yang didapat dari majikannya, menceritakan jauhnya perjalanan untuk sampai ke sini, dan beliau saw mempersilahkan pembelinya untuk memberi laba berapa. Dengan perangainya yang baik dan fisik yang baik, bersih, rapi, tinggi, dan wangi pemuda yang sempurna, dengan demikian banyak dari pembeli yang memberikan laba kepada Rasulullah saw dua kali lipat bahkan lebih. Tak heran stok dagangan untuk satu bulan habis dalam satu minggu, sampai beliau Rasulullah saw menunggu kabilah yang lain selama tiga minggu untuk pulang.

Sesampainya di Makkah, Maisaroh menceritakan kepada sayyidah Khadijah kisah perjalanan yang dialaminya bersama Nabi Muhammad yang penuh keunikan dan keajaiban sewaktu diperjalanan. Diantaranya tiap kali Nabi Muhammad berjalan selalu dinaungi oleh awan sehinggat tidak terkena panasnya terik matahari di siang hari. Maisaroh juga menceritakan sikap tindak lanjut nabi Muhammad dalam berdagang, yang penuh kejujuran, santun dan sangat professional.

Mendengar cerita maisarah, sayyidah Khadijah semakin kagum dan menaruh rasa hati kepada Nabi Muhammad Saw.  Akhirya beliau mengutus utusan wanita yaitu Nafisah binti Umayyah untuk menanyakan hajat Sayyidah Khodijah, perihal rencana lamaran dan pernikahannya kepada Nabi Muhammad Saw.

Berita "Kisah" Lainnya