User Name Password Register Forgot Password.!?

menu
Get the Flash Player to see this rotator.

Sejarah YAYASAN ROUDLOTUSSALAF

Majelis Maulid Watta'lim "Roudlotussalaf" didirikan oleh Almarhum Al Habib Abdullah bin Sholeh Assegaf.  Beliau Al Habib Abdullah pertama membuka majelis maulid bersama istri dan putra-putrinya di kediamannya. Beliau mempunyai prinsip yang pertama harus diajak dan dibimbing itu adalah keluarga. Di saat beliau beserta keluarganya membaca maulid terbesitlah keinginan dalam hatinya untuk memberi kesempatan para tetangga dan masyarakat sekitar yang mau ikut hadir dalam majelis yang beliau selenggarakan. Karena itulah Habib Abdullah meminta kepada salah satu putranya yakni Habib Umar untuk membuka pintu rumah.

Setelah berjala beberapa waktu, akhirnya ada satu orang tetangga yang ikut. Kemudian beberapa tahun berjalan, akhirnya satu demi satu tetangga dan masyarakat sekitarpun ikut hadir di kediaman beliau untuk mengikuti majelis maulid maulidurrasul. Secara istiqomah majelis ini terus berjalan den dengan penuh kesabaran Habib Abdullah  mengasuh majelis ini hingga jmaah yang hadir kian bertambah.

Dengan bertambhanya jama'ah yang hadir dalam majelis, Habib Abdullah pun rela menyewa terop, karpet, sound, dan semua keperluan majelis. Beliau rela berkorban mengeluarkan uang untuk semua itu. Beliau juga mengajak pada keluarga  dan anak-anaknya untuk ikut menjadi pelayan Rasulullah. Karena pada hakikatnya majelis yang diselenggarakan adalah Majelis Rasulullah. Tidak hanya itu, saking perhatiannya pada jamaah maulid, beliau juga rela mencangkul  tanah sendiri membuat parit agar  air hujan tidak sampai  membasahi karpet tempat hadirin duduk, sehingga kekhusyu'an jamaah tidak terganggu.

 

Sosok

Al Habib Abdullah bin Sholeh Assegaf adalah sosok yang loman, Dalam urusan makan saja, beliau tidak bisa makan kalau sendirian. Bila didapati makanan di rumah dan keluarga sudah makan semua, beliau keluar rumah untuk mengajak tetangga, tak jarang pula tukang becak diundang untuk menemani beliau makan.  Alasan beliau,"Makan bersama itu mengandung barokah, siapa tahu mereka yang kita undang itu membawa keberkahan,"

Terhadap orang tua, terutama ibu,  Al Habib Abdullah memperlakukannya bak seorang raja. Beliau benar-benar berkhidmah kepada orang tua.  Beliau sendiri yang biasa melayani keperluan orang tuanya.  Sampai pada saat ibunya sakit keras, beliaulah yang setiap hari menggendongnya ke kamar mandi.

 

Maulid Acara Inti

Al Habib Abdullah sangat menghormati Nabi Muhammad, demikian juga pembacaan maulid Nabi. Maka, beliau berpesan jadikanlah dzikir dan pembacaan sholawat sebagai inti dari pada acara ketika kita mengadakan majelis pengajian. Pesan ini beliau sampaikan karena beliau kerap kali melihat dalam acara keagamaan maupun beliau sendiri menghadiri majelis dzikir watta'lim yang dijadikan acara inti adalah mauidzotu hasanah. Sementara pembacaan dzikir dan maulid malah dijadikan pra acara. Padahal mauidzotul hasanah hanyalah salah satu bagian dari rangkaian acara dalam majelis.

Beliau pernah berkata :

Ini su'ul adab pada Allah dan Rasulullah, seharusnya dzikir dan pembacaan maulidlah yang menjadi acara inti bukannya mauidzoh hasanah. Kalau ini disampaikan pada undangan biasanya orang itu mau datang kalau membaca siapa yang akan memberi  taushiyah. Kalau mubalighnya terkenal mau datang. Tapi, kalau mubalighnya tidak dikenalnya maka tidak mau hadir. Mereka lupa seharusnya yang menjadikan mereka semangat untuk hadir adalah majelis yang akan mereka hadiri adalah majelis yang mana nama Allah dan Rasulullah, akan disebut yang akan menyambungkan ruhani mereka dengan Allah dan Rasulullah.

Kalau hatinya belum dibersihkan melalui majelis dzikir bagaimana ilmu yang disampaikan oleh mubaligh itu bisa masuk.

 

Kehadiran Sang Nabi

Menjelang kewafatannya, Habib Abdullah sakit keras. Beliau hanya bisa berbaring lemah di atas pembaringan. Namun, lisan dan hatinya senantiasa berdzikir dan bersholawat. Saat sakitnya semakin parah, Habib Abdullah memanggil salah satu putranya, Habib Umar dan memintanya untuk memakaikan pakaian yang bagus,  jubah dan juga serban lengkap sebagaimana pada saat beliau mengasuh pembacaan maulid di Majelis Roudlotussalaf. Dipakaikanlah pakaian dan jubah putih beliau, imamah di kepala beliau dan surban di pundak beliau. Setelah itu beliau minta agar dibantu duduk di atas tempat tidur. Putranya sempat melarang beliau duduk, karena kesehatannya tidak memungkinkan. Namun, dengan penuh semangat beliau tetap memaksa ingin duduk.  Habib Abdullah juga meminta semua keluarga dan putra putrinya kumpul di kamar beliau, lantas Habib Abdullah meminta putranya Habib Umar menyenandung pujian kepada sang Nabi. Mulailah Habib Umar membacakan bait, "Yaa Rasulallahi Salaamun ‘alaik, Yaa Rafii'as-syaani wad daraji (Wahai Rasulullah, salam sejahtera semoga tetap atas engkau. Wahai, orang yang berderajat dan berbudi luhur)."Athfatan yajiiratal ‘alami, Ya uhailal juudi wal karami" (Memang nyata kasih sayangmu, wahai pemimpin tetangga. Wahai orag yang ahli berderma dan bermurah hati)

Di saat dibacakan pujian itu, Habib Abdullah mengatakan, "Ketahuilah wahai dzuriyahku bahwa Rasulullah telah hadir - Rasulullah telah hadir." Mendengar perkataan tersebut spontan Habib Umar dan keluarga tak kuasa menahan air matanya, terisak menahan tangsnya saat melanjutkan senandung syair pujian kepada Nabi Muhammad SAW tersebut.

Peristiwa itu merupakan sebuah isyarat bahwa Habib Abdullah telah melihat kehadiran Rasulullah untuk menjemput beliau. Dan tak lama kemudian, Habib Abdullah benar-benar berpulang ke Rahmatullah, dijemput oleh datuknya yang ia cintai (Rasulullah SAW), sebagai bukti bahwa Rasulullah pun cinta pada beliau karena semasa hidupnya beliau juga cinta pada Rasulullah, beliau curahkan hidupnya, hartanya untuk mengajak ummat untuk cinta pada Rasulullah dan sunnah-sunnahnya.